Webekspres – Generasi muda atau yang akrab disapa Gen-Z kini dituntut untuk lebih melek finansial sejak dini. Langkah ini krusial agar mereka tidak tergilas fenomena “besar pasak daripada tiang” di tengah gempuran biaya hidup yang kian melambung tinggi, sementara pendapatan bulanan kerap kali belum mapan.

Pakar Ekonomi dan Keuangan Syariah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, mengingatkan bahwa fondasi awal yang wajib dimiliki setiap orang adalah mengenali financial profile atau profil keuangan diri sendiri. Lewat pemetaan ini, seseorang bisa melihat secara objektif di mana posisi mereka saat ini, apakah sudah masuk kategori sejahtera, setengah sejahtera, kurang sejahtera, atau bahkan tidak sejahtera sama sekali.

“Indikator utamanya sangat sederhana, yaitu melihat perbandingan langsung antara seberapa besar uang yang masuk dengan uang yang keluar,” ujar Dimas pada Kamis (14/5/2026). Ia juga menambahkan sebuah prinsip penting, “Planning is bringing the future into the present.” Maknanya, perencanaan keuangan bertindak seperti cermin yang membawa potret masa depan ke hari ini, sehingga kita bisa mengantisipasi langkah apa yang harus diambil sekarang.

Menurutnya, situasi keuangan yang sehat atau ideal baru bisa terwujud jika angka pendapatan berada di atas pengeluaran rutin. Selisih kelebihan dana itulah yang nantinya bisa dialokasikan untuk mengisi pos tabungan, modal investasi, hingga menyusun bantalan dana darurat.

Sebaliknya, tanda bahaya besar mulai mengintai ketika biaya untuk bertahan hidup justru membengkak melampaui pemasukan. Begitu kondisi ini terjadi, roda kesejahteraan pasti akan merosot tajam. Oleh karena itu, kemampuan dalam memilah antara kebutuhan mendasar dan sekadar keinginan sesaat menjadi kunci yang tidak boleh ditawar.

Sebagai solusi praktis, Dimas menyarankan anak muda untuk rajin melakukan financial checkup demi memantau kesehatan dompet mereka. Caranya tidak rumit, cukup dengan membagi setiap pemasukan ke dalam tiga kantong utama, yaitu living (biaya hidup), saving (tabungan), dan refreshing (hiburan).

“Kantong living digunakan untuk membiayai keperluan pokok sehari-hari, lalu kantong saving dikunci khusus untuk tabungan serta investasi jangka panjang. Sementara itu, porsi untuk refreshing sifatnya jauh lebih fleksibel dan opsional,” jelasnya.

Tidak kalah penting, setiap pengeluaran juga wajib dikontrol menggunakan formula rasio keuangan yang sehat. Sebagai standar aman, total alokasi untuk tabungan, investasi, dan dana darurat, termasuk batas maksimal utang, idealnya dijaga ketat agar tidak menyedot lebih dari 50 persen dari seluruh pendapatan kotor bulanan.

Iklan Webekspres