Webekspres – Meskipun adopsi kecerdasan buatan AI di sektor korporasi terus meningkat pesat, pemanfaatannya saat ini masih terjebak pada lingkup efisiensi operasional semata. Laporan teranyar dari EY-Parthenon mengungkapkan fakta menarik: mayoritas perusahaan memang sudah memanen hasil AI untuk produktivitas, namun sangat sedikit yang berani menyentuh aspek strategis guna memicu pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Dalam survei yang melibatkan ratusan eksekutif tingkat atas tersebut, terungkap bahwa 63 persen pemimpin merasa AI sangat membantu dalam mempercepat ritme kerja. Namun, angka tersebut berbanding terbalik ketika bicara soal daya saing. Tercatat hanya 14 persen responden yang memanfaatkan teknologi pintar ini untuk mengungguli kompetitor. Lebih rendah lagi, hanya sekitar 7 hingga 8 persen perusahaan yang menggunakannya untuk diversifikasi sumber pendapatan atau menjangkau segmen pasar baru.

Tantangan Ekonomi dan Inovasi yang Mendesak Kondisi ekonomi global yang fluktuatif serta tensi geopolitik menjadi alasan kuat mengapa strategi pertumbuhan harus segera bertransformasi. EY-Parthenon mencatat bahwa 97 persen pelaku bisnis merasa terpaksa merombak rencana ekspansi mereka dalam setahun terakhir akibat tekanan faktor eksternal. Era perencanaan bisnis kaku untuk tiga tahun ke depan dianggap telah usai; perusahaan kini dituntut untuk bergerak lebih lincah.

Mitch Berlin, pimpinan dari EY-P, menegaskan bahwa pemenang di masa depan adalah mereka yang mampu melampaui penggunaan AI standar. Menurutnya, inovasi yang lebih cepat dan penciptaan produk yang personal bagi pelanggan adalah kunci utama. Namun, hambatan seperti regulasi yang ketat serta ketergantungan pada infrastruktur teknologi lama masih menjadi batu sandungan bagi banyak organisasi.

Memanfaatkan AI untuk Pengambilan Keputusan Strategis Salah satu temuan krusial dalam laporan ini adalah adanya “celah kepercayaan”. Sebanyak 78 persen pemimpin berharap AI bisa mendorong pertumbuhan, tetapi hanya 34 persen yang benar-benar yakin menyerahkan keputusan besar pada analisis mesin.

Untuk menjembatani hal ini, EY-P menyarankan perusahaan untuk mengeksplorasi kemampuan AI yang lebih dalam, seperti:

Analisis Kekayaan Intelektual: Menggunakan AI untuk menggali data paten internal guna menemukan potensi pasar yang belum terjamah.

Kecerdasan Pengambilan Keputusan: Memisahkan fungsi transaksi rutin dengan sistem pengambilan keputusan yang dapat terus belajar dari pengalaman.

Adopsi Neuro-symbolic AI (NSAI): Menggabungkan pembelajaran data yang luas dengan aturan logika yang jelas agar hasil keputusan tetap transparan, konsisten, dan mudah diaudit.

Keberanian perusahaan untuk keluar dari zona nyaman “efisiensi” dan mulai masuk ke ranah “inovasi strategis” melalui AI akan menjadi pembeda nyata antara mereka yang memimpin pasar atau justru tertinggal di belakang.

Iklan Webekspres