Webekspres – Seorang pria asal Amerika Serikat bernama Michael Smith dijatuhi hukuman 18 bulan penjara setelah terbukti menjalankan penipuan royalti musik menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan ribuan akun otomatis atau bot.

Pria berusia 54 tahun asal North Carolina tersebut memanfaatkan lagu hasil teknologi AI untuk memperoleh jutaan dolar dari layanan streaming musik. Lagu-lagu itu diputar secara otomatis hingga menghasilkan miliaran pemutaran palsu.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkapkan bahwa aktivitas bot milik Smith bahkan sempat menghasilkan angka pemutaran yang melampaui katalog penyanyi dunia Taylor Swift di YouTube Music dalam kategori langganan keluarga.

Pada April 2023, seluruh katalog Taylor Swift mencatat sekitar 9,3 juta pemutaran melalui paket keluarga YouTube Music. Sementara itu, jaringan bot Smith menghasilkan sebanyak 80,9 juta pemutaran melalui jenis paket yang sama dalam periode tersebut.

Namun, tingginya angka tersebut bukan berasal dari pendengar sungguhan, melainkan aktivitas otomatis yang sengaja dijalankan untuk memperoleh pembayaran royalti.

Ribuan Akun Bot Digunakan untuk Memanipulasi Streaming Musik

Menurut laporan DOJ yang dirilis pada 6 Oktober 2026, Smith menjalankan skema penipuan tersebut sepanjang 2017 hingga 2024.

Dalam menjalankan aksinya, ia membuat ribuan akun palsu pada berbagai platform musik digital, termasuk YouTube Music, Spotify, Apple Music, dan Amazon Music.

Akun-akun tersebut kemudian dioperasikan menggunakan perangkat lunak agar dapat memutar lagu secara terus-menerus tanpa keterlibatan pendengar sebenarnya.

Pada periode tertentu, Smith bahkan menjalankan hingga 10.000 akun bot secara bersamaan untuk meningkatkan jumlah pemutaran.

DOJ menjelaskan bahwa pembuatan akun palsu dilakukan dengan memanfaatkan alamat email fiktif serta kartu debit yang diperoleh secara tidak sah.

Untuk menghindari deteksi sistem keamanan platform, Smith tidak memusatkan seluruh aktivitas bot pada satu lagu. Ia justru membagi jumlah pemutaran ke ribuan karya sehingga lonjakan aktivitas pada setiap lagu tidak terlalu mencolok.

Strategi tersebut membuat aktivitas streaming palsu lebih sulit dibedakan dari pola pemutaran musik biasa.

AI Dimanfaatkan untuk Membuat Ratusan Ribu Lagu

Selain menggunakan bot, Smith memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menyediakan musik dalam jumlah sangat besar.

Melalui teknologi AI generatif, ia menghasilkan ratusan ribu lagu yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari skema manipulasi streaming.

Semakin banyak lagu yang tersedia, semakin mudah baginya menyebarkan aktivitas pemutaran otomatis tanpa menimbulkan lonjakan yang terlalu besar pada satu karya.

DOJ menyebut seluruh lagu hasil AI yang digunakan dalam skema tersebut telah diputar miliaran kali oleh jaringan akun palsu.

Dari aktivitas itu, Smith berhasil memperoleh royalti lebih dari US$8 juta atau sekitar jutaan dolar yang seharusnya tidak diterimanya.

Kasus ini tidak hanya merugikan perusahaan layanan streaming, tetapi juga berdampak terhadap musisi dan pencipta lagu yang memperoleh pendapatan dari pemutaran asli.

Pasalnya, sejumlah platform membagikan royalti berdasarkan proporsi jumlah streaming dalam kumpulan dana pembayaran. Ketika pemutaran palsu ikut dihitung, bagian pendapatan yang semestinya diterima pemilik karya asli dapat berkurang.

Michael Smith Dihukum 18 Bulan Penjara

Michael Smith sebelumnya mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi penipuan melalui sarana komunikasi elektronik pada 19 Maret 2026.

Setelah melalui proses hukum, pengadilan federal di Amerika Serikat menjatuhkan hukuman 18 bulan penjara pada 6 Oktober 2026.

Selain menjalani hukuman penjara, Smith juga dikenai masa pengawasan selama dua tahun setelah bebas.

Pengadilan turut memerintahkannya menyerahkan hasil kejahatan senilai US$8.091.843,64 melalui mekanisme perampasan aset.

Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, Jamie McDonald, menyatakan bahwa penggunaan bot dan lagu palsu dalam skema tersebut telah mengalihkan jutaan dolar pembayaran royalti dari musisi yang karyanya diputar oleh pendengar sungguhan.

Kasus Michael Smith menjadi contoh bagaimana teknologi AI dan sistem otomatis dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi aktivitas digital dalam skala besar.

Perkara ini juga menunjukkan pentingnya sistem pendeteksi aktivitas palsu serta pengawasan terhadap mekanisme pembagian royalti agar pendapatan para musisi dan pemegang hak cipta tetap terlindungi.

Iklan Webekspres