Webekspres – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan datangnya musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia akan lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis. Pergeseran tersebut diprediksi mencapai sekitar 20 hingga 30 hari.

Kondisi ini berkaitan dengan kekeringan berkepanjangan yang terjadi selama musim kemarau. Rendahnya kadar air di permukaan tanah membuat proses penguapan ikut berkurang sehingga pembentukan awan hujan menjadi tidak optimal.

Fenomena El Nino yang terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole atau IOD turut memperkuat kondisi kering di berbagai daerah Indonesia. Dampaknya cukup terasa karena sejumlah wilayah mengalami kekeringan serius, bahkan masih menghadapi kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa secara umum awal musim hujan tahun ini diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian. Satu dasarian merupakan periode sekitar 10 hari, sehingga pergeseran musim dapat mencapai 20 sampai 30 hari.

Dengan kondisi tersebut, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan baru mulai memasuki musim hujan pada November, sedangkan beberapa daerah lainnya kemungkinan baru merasakan peningkatan hujan pada Desember.

Tidak hanya datang lebih lambat, periode musim hujan juga diperkirakan berlangsung dalam waktu yang relatif lebih pendek. Meski demikian, jumlah curah hujan secara keseluruhan diproyeksikan masih berada pada kategori normal.

Kondisi tersebut membuat curah hujan berpotensi terkonsentrasi dalam periode yang lebih singkat. Akibatnya, hujan dengan intensitas cukup tinggi dapat terjadi di sejumlah wilayah meskipun musim hujan tidak berlangsung selama biasanya.

BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor. Risiko tersebut dapat meningkat ketika Indonesia memasuki puncak musim hujan.

Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada periode Desember hingga Februari, meskipun waktunya dapat berbeda di setiap wilayah. Curah hujan yang terkumpul dalam waktu lebih singkat berpotensi meningkatkan debit air sungai maupun kejenuhan tanah.

Menurut BMKG, meskipun sifat hujan diperkirakan tetap normal berdasarkan rata-rata klimatologis sekitar 30 tahun terakhir, durasi musim yang lebih pendek perlu menjadi perhatian. Jumlah hujan yang relatif sama dapat turun dalam rentang waktu lebih singkat sehingga meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem dan bencana terkait hujan.

Di tengah kondisi kemarau yang masih terjadi di beberapa daerah, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menjalankan operasi modifikasi cuaca. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu mempercepat terbentuknya awan hujan di wilayah yang menjadi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Sejumlah daerah yang menjadi perhatian antara lain Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah dinilai cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan, sementara kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Sumatera Selatan.

Masyarakat diimbau terus mengikuti informasi cuaca terbaru dari sumber resmi, terutama menjelang masa peralihan menuju musim hujan. Persiapan sejak dini diperlukan untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh hujan lebat, banjir, longsor, maupun perubahan cuaca secara tiba-tiba.

Iklan Webekspres