Webekspres – Tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini memicu kekhawatiran terkait stabilitas perekonomian domestik. Lonjakan mata uang paman sam tersebut memantik perhatian luas, tak terkecuali dari kalangan akademisi di Tulungagung yang ikut menyoroti dampak rambatannya terhadap pasar nasional.
Berdasarkan data perdagangan terbaru pekan ini, posisi mata uang Garuda terpantau fluktuatif dan tertahan di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.600 per dolar AS. Bahkan dalam beberapa sesi pasar, pergerakan nilai tukar sempat menyentuh level tertingginya di angka Rp17.600.
Merespons fenomena ini, Lona Chinsia Alfattama, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Tulungagung, memaparkan bahwa gejolak di tingkat global memegang peran besar. Ketidakpastian pasar internasional sering kali memicu kepanikan investor luar negeri, yang kemudian memilih untuk memindahkan modal mereka keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
“Saat konjungtur ekonomi global sedang tidak menentu, jamak bagi pemodal asing untuk menarik aset mereka. Situasi seperti ini yang memicu volatilitas tinggi di pasar saham kita,” ungkap Lona saat memberikan keterangannya.
Lebih lanjut, Lona menyebut tekanan terhadap rupiah ini juga menjadi tantangan besar bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor. Alih-alih mendapat untung besar dari konversi dolar, komoditas asal Indonesia justru terancam kehilangan daya saing di kancah internasional akibat biaya produksi di dalam negeri yang ikut terkerek naik.
“Daya saing produk ekspor kita bisa tergerus karena secara kalkulasi ekonomi, biaya operasional dan produksi domestik menjadi relatif lebih membebani bagi para pembeli di luar negeri,” imbuhnya.
Jika fluktuasi tajam ini terus terjadi dalam durasi yang panjang, risiko perlambatan roda ekonomi nasional menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Salah satu ancaman nyata yang di depan mata adalah terjadinya defisit atau ketidakseimbangan pada neraca pembayaran untuk aktivitas ekspor dan impor.
“Dampak sistemiknya bisa mengarah pada penurunan laju pertumbuhan ekonomi secara umum. Selain itu, kalkulasi perdagangan luar negeri, baik untuk pasokan impor maupun target ekspor, akan menjadi timpang,” jelas Lona.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya langkah taktis dan respons cepat dari jajaran pemerintah beserta bank sentral. Kebijakan intervensi yang kuat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi agar gejolak kurs ini tidak sampai melumpuhkan gairah investasi serta arus perdagangan internasional Indonesia.
- Alamat Webekspres Karawang
- Jasa Aplikasi Perusahaan Karawang
- Jasa Artikel SEO Karawang
- Jasa Digital Marketing di Karawang
- Jasa Iklan Google Karawang
- Jasa Iklan Meta Karawang
- Jasa Pelatihan IT Karawang
- Jasa Pembuatan Aplikasi di Karawang
- Jasa Pembuatan Software di Karawang
- Jasa Pembuatan Website di Karawang
- Jasa Pembuatan Website di Kecamatan Pangkalan
- Jasa SEO Karawang
- Jasa Software Perusahaan Karawang
- Jasa Website Company Profile Karawang
- Jasa Website Industri Karawang
- Jasa Website Perusahaan Karawang
- Kantor Webekspres Karawang
- Masa Media Sosial Karawang
- Perusahaan IT Karawang
- Perusahaan Startup Karawang
- PT Webekspres Teknologi Indonesia



Tinggalkan Balasan