Webekspres – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Hingga Senin, 7 September 2026, sekitar 458 hektare lahan di kawasan tersebut dilaporkan masih terbakar.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, kebakaran di sekitar IKN menjadi salah satu titik yang saat ini terus mendapatkan perhatian dan penanganan intensif.

Menurut Suharyanto, secara nasional luas hutan dan lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 72.008 hektare. Dari jumlah tersebut, lebih dari 71 ribu hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan, sedangkan ratusan hektare lainnya masih dalam proses penanganan.

Berdasarkan data yang disampaikan BNPB, luas lahan yang masih terbakar hingga sehari sebelumnya tercatat sekitar 734,81 hektare. Sebagian besar titik kebakaran tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk kawasan yang berada di sekitar IKN.

Kondisi karhutla di sekitar IKN turut menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah meminta agar upaya pemadaman diperkuat sehingga kebakaran tidak meluas hingga mendekati kawasan inti dan objek vital di Ibu Kota Nusantara.

Prabowo juga meminta BNPB mempertimbangkan pengerahan tambahan sumber daya untuk mempercepat pengendalian api. Penanganan karhutla sendiri dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, mulai dari BNPB, pemerintah daerah, TNI, Polri hingga instansi terkait lainnya.

Sebelumnya, BNPB juga telah memperkuat operasi penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pemerintah menggunakan kombinasi pemadaman melalui jalur darat, operasi water bombing menggunakan helikopter, serta operasi modifikasi cuaca (OMC).

BNPB menyebut periode Agustus hingga September 2026 merupakan masa dengan risiko karhutla yang tinggi, khususnya di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Karena itu, pemantauan serta kesiapsiagaan terus ditingkatkan guna mencegah kebakaran meluas.

Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan, BNPB juga menghadapi kendala lain berupa sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi abu di sejumlah wilayah disebut dapat memengaruhi penerbangan pesawat yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca.

Jika kondisi udara di sekitar Jakarta, Banten, Lampung hingga Sumatera Selatan tidak memungkinkan untuk penerbangan, BNPB mempertimbangkan pelaksanaan operasi dari wilayah Jawa Tengah. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan potensi hujan sekaligus mengurangi konsentrasi abu vulkanik di atmosfer.

BNPB sebelumnya juga telah menambah dukungan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan. Langkah itu dilakukan karena hujan dinilai menjadi salah satu metode efektif dalam membantu pemadaman, terutama pada kebakaran yang terjadi di kawasan lahan gambut.

Iklan Webekspres