Webekspres – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, penjualan bendera Merah Putih dan berbagai aksesori kemerdekaan di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, belum menunjukkan peningkatan yang berarti.

Kondisi tersebut berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, sejak akhir Juli hingga sekitar 10 Agustus, masyarakat mulai ramai membeli bendera, umbul-umbul, backdrop, dan hiasan bernuansa merah putih untuk dipasang di rumah, perkantoran, maupun lingkungan tempat tinggal.

Ali, salah seorang pedagang bendera musiman di Jalan Bekasi Raya, mengungkapkan bahwa lapaknya masih sepi pembeli. Bahkan, hingga awal Agustus, transaksi pertama yang biasanya menjadi pembuka rezeki pedagang belum juga diperoleh.

Meskipun baru berjualan di sekitar Stasiun Jatinegara pada tahun ini, Ali telah cukup lama mengenal bisnis musiman tersebut. Setiap tahun, ia mengambil barang dari pemilik lapak yang sama. Di luar musim kemerdekaan, Ali bekerja sebagai penjaga toko di kawasan tersebut.

Menurutnya, jumlah masyarakat yang datang untuk mencari bendera dan dekorasi HUT RI menurun cukup jauh. Pedagang juga menghadapi calon pembeli yang menawar harga sangat rendah, bahkan ada yang mengajukan harga di bawah modal.

Ali mencontohkan, salah satu produk backdrop ditawar sekitar Rp65 ribu per meter. Padahal, modal yang harus dikeluarkan pedagang mencapai Rp75 ribu per meter. Apabila penawaran tersebut diterima, pedagang harus menanggung kerugian sekitar Rp10 ribu untuk setiap meter produk yang terjual.

Saat ini, pedagang mengaku tidak lagi mengejar keuntungan besar. Selisih keuntungan sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu pun tetap dipertimbangkan agar barang dagangan dapat terjual dan modal bisa kembali.

Persaingan harga di kawasan Jatinegara juga dinilai lebih ketat karena banyak pedagang dan pemasok berkumpul di lokasi yang sama. Berbeda ketika berjualan di kawasan yang jumlah pedagangnya lebih sedikit, harga di pusat penjualan bendera cenderung sulit dinaikkan.

Ali mengaku pernah mengalami kerugian sekitar Rp1,2 juta ketika berjualan pada musim kemerdekaan tahun 2023. Namun, pada tahun berikutnya saat berjualan di Pamulang, ia masih memperoleh keuntungan sekitar Rp2 juta. Dalam periode sebelumnya, keuntungan selama sekitar 10 hari berjualan bahkan sempat mencapai Rp5 juta.

Risiko kerugian juga dialami pedagang lainnya. Ada pedagang yang datang dari daerah ke Jakarta untuk mencari penghasilan, tetapi harus kembali dengan membawa utang karena pendapatan harian tidak cukup menutup biaya makan dan modal barang.

Pedagang lain di kawasan Pasar Mester Jatinegara, Bodi, turut menyampaikan bahwa keuntungan dari penjualan atribut kemerdekaan terus menurun. Sebagian pedagang hanya mampu memperoleh laba sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta selama musim penjualan.

Selain daya beli masyarakat yang melemah, pedagang konvensional juga menghadapi persaingan dari toko daring. Harga produk di platform online sering kali dijadikan patokan oleh pembeli, meskipun ukuran, bahan, dan kualitas barang yang ditawarkan belum tentu sama.

Para pedagang berharap penjualan mulai meningkat mendekati tanggal 17 Agustus. Momentum perayaan kemerdekaan menjadi kesempatan utama bagi mereka untuk mengembalikan modal sekaligus memperoleh pendapatan tambahan dari usaha musiman tersebut.

Iklan Webekspres