Webekspres – Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 4 hingga 6 September kembali mengingatkan masyarakat terhadap salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah, yakni letusan Gunung Krakatau pada 1883.

Peristiwa tersebut kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai unggahan membahas sejarah terbentuknya Anak Krakatau hingga dampak luar biasa yang ditimbulkan letusan Krakatau lebih dari satu abad lalu.

Gunung Krakatau mengalami erupsi besar pada 26 Agustus 1883. Sehari kemudian, tepatnya 27 Agustus, aktivitas vulkaniknya mencapai puncak dan menghasilkan serangkaian ledakan yang sangat kuat.

Pada 26 Agustus, Krakatau memuntahkan material vulkanik dalam jumlah besar hingga membentuk kolom abu yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 36 kilometer. Pekatnya abu membuat kondisi langit di sejumlah wilayah menjadi gelap.

Aktivitas tersebut juga memicu gelombang tsunami yang menerjang kawasan pesisir, termasuk wilayah Anyer dan Lampung.

Situasi semakin parah pada 27 Agustus. Empat ledakan besar tercatat terjadi dan menyebabkan sebagian besar tubuh Krakatau runtuh. Diperkirakan sekitar 70 persen bagian gunung hancur akibat rangkaian erupsi tersebut.

Runtuhnya tubuh gunung kemudian memicu tsunami besar di kawasan Selat Sunda. Gelombangnya dilaporkan mencapai ketinggian puluhan meter dan menyapu berbagai permukiman di sekitar pesisir.

Salah satu ledakan terkuat terjadi sekitar pukul 10.02 waktu setempat. Ledakan ini kerap disebut sebagai titik paling dahsyat dalam rangkaian bencana Krakatau 1883.

Besarnya energi yang dilepaskan membuat suara dentuman Krakatau dapat terdengar hingga wilayah yang sangat jauh dari pusat erupsi. Dampaknya bahkan tercatat hingga kawasan di luar Indonesia.

Tidak hanya menghancurkan daerah di sekitar Selat Sunda, material vulkanik Krakatau turut menyebar ke lapisan atmosfer bumi.

Partikel abu dan sulfur dioksida yang terlempar ke atmosfer menghalangi sebagian cahaya Matahari. Kondisi tersebut disebut berkontribusi terhadap penurunan suhu rata-rata global hingga sekitar 0,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun setelah erupsi.

Fenomena Bulan Biru dan Matahari Berwarna Aneh

Salah satu fenomena menarik yang dilaporkan setelah erupsi Krakatau adalah perubahan warna Matahari dan Bulan yang terlihat dari sejumlah wilayah dunia.

Dalam kondisi normal, Bulan biasanya terlihat putih keperakan atau sedikit kekuningan. Namun setelah letusan Krakatau, terdapat laporan bahwa Bulan tampak berwarna biru, sedangkan Matahari dan langit senja menunjukkan warna yang tidak biasa.

Fenomena tersebut berkaitan dengan banyaknya partikel vulkanik yang berada di atmosfer.

Partikel berukuran tertentu dapat menghamburkan cahaya dengan cara yang berbeda dibandingkan kondisi atmosfer normal. Material hasil erupsi juga dapat menyerap maupun memantulkan sebagian spektrum cahaya yang menuju mata manusia.

Saat cahaya Bulan melewati lapisan atmosfer yang dipenuhi partikel abu vulkanik, cahaya merah dapat lebih banyak terhalang. Akibatnya, gelombang cahaya berwarna biru atau kehijauan menjadi lebih dominan dan membuat Bulan terlihat memiliki warna berbeda.

Fenomena serupa juga dapat memengaruhi warna Matahari serta langit ketika senja.

Lebih dari 36 Ribu Orang Dilaporkan Tewas

Di balik fenomena alam yang terjadi setelahnya, letusan Krakatau 1883 meninggalkan tragedi kemanusiaan berskala besar.

Sekitar 36.417 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sebagian besar korban disebut meninggal karena tsunami besar yang menyapu kawasan pesisir setelah erupsi.

Sekitar 32 ribu korban diperkirakan tewas akibat gelombang tsunami. Meski demikian, sejumlah catatan sejarah memperkirakan jumlah sebenarnya dapat lebih tinggi karena tidak seluruh penduduk di permukiman kecil maupun pekerja perkebunan tercatat secara resmi pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Lebih dari satu abad kemudian, Krakatau tetap menjadi salah satu contoh bagaimana erupsi gunung api dapat memberikan dampak tidak hanya bagi wilayah di sekitarnya, tetapi juga terhadap atmosfer dan kondisi lingkungan dalam skala global.

Iklan Webekspres