Webekspres – Citra satelit milik NASA menunjukkan adanya konsentrasi karbon monoksida atau CO yang cukup tinggi di atmosfer Indonesia. Dalam peta pemantauan tersebut, wilayah dengan kadar CO tinggi terlihat membentang dari Sumatra hingga Papua.

Data yang ditampilkan melalui platform Eyes on the Earth milik NASA menunjukkan konsentrasi karbon monoksida pada lapisan atmosfer di ketinggian sekitar 5.500 meter. Karena pengukuran dilakukan pada lapisan tersebut, data ini belum dapat digunakan secara langsung untuk menentukan tingkat risiko keracunan karbon monoksida yang dialami masyarakat di permukaan.

Dalam pemantauan yang terlihat pada pertengahan Oktober, sebagian besar wilayah udara Indonesia ditandai dengan warna merah tua. Warna tersebut menunjukkan konsentrasi karbon monoksida berada pada bagian tinggi dalam skala pemetaan NASA.

Kondisi ini diketahui telah terpantau sejak awal Oktober. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan karbon monoksida adalah kebakaran hutan dan lahan.

NASA menjelaskan bahwa kebakaran hutan merupakan salah satu sumber karbon monoksida di atmosfer. Selain itu, gas tersebut juga dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas gunung berapi, pembakaran kayu, serta proses pembakaran bahan bakar fosil yang tidak berlangsung sempurna.

Mengapa Karbon Monoksida Berbahaya?

Karbon monoksida merupakan gas yang sulit dikenali secara langsung karena tidak memiliki warna maupun bau. Kondisi inilah yang membuat paparan CO dapat terjadi tanpa disadari.

Menurut informasi Kementerian Kesehatan, karbon monoksida yang masuk ke tubuh melalui pernapasan dapat berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah.

Hemoglobin pada dasarnya memiliki fungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Namun, ketika karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin, akan terbentuk senyawa yang disebut karboksihemoglobin atau COHb.

Pembentukan COHb dapat mengurangi kemampuan darah dalam mendistribusikan oksigen. Akibatnya, jaringan dan organ tubuh berpotensi mengalami kondisi kekurangan oksigen atau hipoksia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan juga menjelaskan bahwa hemoglobin memiliki daya ikat yang lebih kuat terhadap karbon monoksida dibandingkan oksigen. Jika paparan terjadi dalam jumlah tinggi, suplai oksigen ke organ-organ vital dapat terganggu.

Otak dan jantung termasuk organ yang sangat bergantung pada pasokan oksigen. Karena itu, paparan karbon monoksida dalam kadar tertentu dapat menimbulkan dampak serius terhadap fungsi kedua organ tersebut.

Pada seseorang yang memiliki riwayat penyakit jantung koroner, paparan CO juga dapat memperburuk kondisi akibat berkurangnya pasokan oksigen ke otot jantung.

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Karbon monoksida kerap disebut sebagai pembunuh senyap atau silent killer karena keberadaannya tidak mudah diketahui tanpa alat pendeteksi.

Gejala awal keracunan karbon monoksida juga dapat menyerupai gangguan kesehatan lain sehingga sering kali tidak langsung dikenali.

Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain sakit kepala, mual, muntah, tubuh terasa lelah, pusing, hingga kesulitan bernapas.

Apabila paparan semakin berat, seseorang dapat mengalami kebingungan, gangguan penglihatan, kehilangan kemampuan koordinasi tubuh, hingga penurunan kesadaran.

Dalam kondisi yang sangat parah, keracunan karbon monoksida dapat menyebabkan kejang, koma, bahkan kematian apabila tidak mendapatkan penanganan dengan cepat.

Karbon Monoksida Juga Bisa Berasal dari Dalam Rumah

Risiko paparan karbon monoksida tidak hanya berasal dari kondisi udara di luar ruangan. Sejumlah peralatan rumah tangga juga berpotensi menghasilkan CO apabila terjadi proses pembakaran yang tidak sempurna atau terdapat masalah pada sistem ventilasi.

Kementerian Kesehatan menyebut beberapa sumber yang perlu diperhatikan, seperti kompor gas, alat pemanas berbahan bakar minyak tanah, tungku, maupun cerobong yang mengalami kebocoran.

Gas buang kendaraan juga dapat menjadi sumber bahaya. Kebocoran yang menyebabkan asap kendaraan masuk ke dalam kabin dengan ventilasi minim dapat meningkatkan risiko keracunan.

Selain itu, menyalakan kendaraan di dalam garasi tertutup juga berbahaya karena karbon monoksida dari hasil pembakaran mesin dapat terkumpul di ruangan dan terhirup dalam jumlah besar.

Pertolongan Saat Diduga Terjadi Keracunan CO

Apabila seseorang diduga mengalami keracunan karbon monoksida, korban perlu segera dijauhkan dari sumber paparan dan dipindahkan ke tempat dengan udara yang lebih aman.

Pemberian oksigen murni dapat menjadi salah satu bagian dari penanganan medis terhadap keracunan CO. Namun, korban tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesegera mungkin oleh tenaga kesehatan.

Orang yang memberikan pertolongan juga harus memperhatikan keselamatannya agar tidak ikut terpapar karbon monoksida dari sumber yang sama.

Meskipun data satelit menunjukkan konsentrasi CO yang tinggi di atmosfer Indonesia, informasi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa masyarakat di permukaan sedang mengalami paparan pada tingkat berbahaya. Pengukuran kualitas udara di permukaan dan informasi dari lembaga terkait tetap diperlukan untuk mengetahui risiko secara lebih akurat.

Iklan Webekspres