Webekspres – Fenomena El Nino tidak hanya menyebabkan perubahan pola cuaca dan peningkatan suhu di sejumlah wilayah dunia. Kondisi iklim yang terjadi di Samudra Pasifik ini ternyata juga dapat memengaruhi kecepatan rotasi Bumi, sehingga durasi satu hari menjadi sedikit lebih panjang.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menjelaskan bahwa ketika El Nino mencapai kategori kuat, perubahan pola angin di atmosfer dapat memperlambat rotasi Bumi hingga menyebabkan pertambahan durasi hari sekitar satu milidetik.

Meski terdengar mengejutkan, perubahan tersebut sangat kecil sehingga tidak dapat dirasakan manusia dalam aktivitas sehari-hari.

El Nino Bisa Menambah Durasi Hari Sekitar 1 Milidetik

Dalam kondisi normal, satu hari memiliki durasi sekitar 24 jam atau 86.400 detik. Namun, kecepatan rotasi Bumi sebenarnya tidak selalu tetap karena dipengaruhi berbagai proses alam.

Menurut NOAA, El Nino yang kuat dapat membuat panjang hari bertambah sekitar satu milidetik atau seperseribu detik pada puncak fenomena tersebut.

Angka itu setara dengan sekitar satu per 100 juta dari keseluruhan durasi satu hari.

Perubahan ini dapat diukur menggunakan instrumen ilmiah berpresisi tinggi, tetapi terlalu kecil untuk memengaruhi jadwal maupun aktivitas manusia.

Penjelasan tersebut juga sejalan dengan penelitian mengenai El Nino 2015–2016 yang menemukan adanya pertambahan durasi hari sekitar 0,8 milidetik akibat interaksi antara atmosfer dan rotasi Bumi.

Mengapa El Nino Bisa Memperlambat Rotasi Bumi?

Pengaruh El Nino terhadap panjang hari berkaitan dengan perubahan pola angin dan perpindahan momentum sudut antara atmosfer dan Bumi.

Ketika El Nino menguat, angin pasat di kawasan tropis Samudra Pasifik cenderung melemah. Sebaliknya, angin baratan di wilayah lintang menengah dapat mengalami penguatan.

Perubahan sirkulasi atmosfer tersebut memengaruhi distribusi momentum sudut dalam sistem Bumi dan atmosfer.

Untuk menjaga keseimbangan momentum sudut secara keseluruhan, rotasi Bumi dapat mengalami perlambatan yang sangat kecil.

Prinsip ini dapat dianalogikan dengan penari balet yang sedang berputar. Ketika kedua lengannya ditarik mendekati tubuh, putarannya menjadi lebih cepat. Sebaliknya, ketika lengannya direntangkan, putarannya dapat melambat.

Meskipun mekanisme antara atmosfer dan Bumi lebih kompleks, analogi tersebut membantu menggambarkan hubungan antara distribusi momentum sudut dan kecepatan rotasi.

La Nina Dapat Memberikan Dampak Sebaliknya

Berbeda dengan El Nino, fenomena La Nina cenderung memberikan pengaruh berlawanan terhadap rotasi Bumi.

La Nina ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di kawasan tropis Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Perubahan pola angin yang menyertainya dapat menyebabkan rotasi Bumi sedikit lebih cepat sehingga panjang hari berkurang dalam skala milidetik.

Namun, pengaruh tersebut tidak berarti setiap kejadian El Nino atau La Nina selalu menghasilkan perubahan durasi hari dengan besaran yang sama.

Kondisi atmosfer, lautan, dan faktor geofisika lainnya juga memengaruhi hasil akhirnya.

NASA Sebut Perubahan Cuaca Juga Memengaruhi Panjang Hari

El Nino bukan satu-satunya fenomena yang dapat mengubah kecepatan rotasi Bumi.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjelaskan bahwa perubahan atmosfer, pergerakan lautan, distribusi air tanah, hingga perubahan massa es dapat memengaruhi panjang hari dalam berbagai rentang waktu.

Bahkan, perubahan cuaca harian dan musiman dapat menyebabkan variasi panjang hari hingga beberapa milidetik dalam setahun.

Para ilmuwan memantau perubahan kecil tersebut menggunakan teknik pengukuran rotasi Bumi yang sangat presisi.

Dengan demikian, panjang hari tidak sepenuhnya konstan dari waktu ke waktu, meskipun perubahan yang terjadi umumnya tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

El Nino 2026 Catat Rekor Suhu Laut di Pasifik

Di tengah perhatian terhadap pengaruh El Nino pada rotasi Bumi, perkembangan fenomena tersebut sepanjang 2026 juga menunjukkan kondisi yang luar biasa.

Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), melaporkan suhu permukaan laut rata-rata di kawasan pemantauan El Nino, yakni Niño 3.4, mencapai 29,70 derajat Celsius pada September 2026.

Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dalam catatan pengukuran kawasan itu dan melampaui suhu puncak pada sejumlah periode El Nino kuat sebelumnya, termasuk 1982–1983, 1997–1998, serta 2015–2016.

Namun, Copernicus mengingatkan bahwa rekor suhu tersebut belum otomatis menjadikan El Nino 2026 sebagai fenomena terkuat sepanjang sejarah.

Pemanasan global turut meningkatkan suhu dasar lautan sehingga perbandingan dengan kejadian El Nino pada masa lalu perlu mempertimbangkan pengaruh perubahan iklim.

Para ilmuwan memperkirakan El Nino masih berpotensi menguat menjelang akhir 2026, meskipun intensitas akhirnya belum dapat dipastikan.

Dampak El Nino Lebih Besar Terasa pada Cuaca

Walaupun perubahan panjang hari menjadi salah satu dampak ilmiah yang menarik, pengaruh utama El Nino terhadap kehidupan manusia tetap berkaitan dengan perubahan iklim dan cuaca.

Fenomena ini dapat menggeser pola curah hujan, meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, serta memperbesar peluang terjadinya hujan ekstrem di wilayah lainnya.

Bagi Indonesia, El Nino sering dikaitkan dengan kondisi musim kemarau yang lebih kering dan meningkatnya risiko kekurangan air maupun kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, pemantauan perkembangan El Nino menjadi penting bukan hanya untuk memahami perubahan kecil pada rotasi Bumi, tetapi juga untuk mengantisipasi dampaknya terhadap lingkungan, pertanian, dan aktivitas masyarakat.

Iklan Webekspres