Webekspres – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah pesan mengenai arah politik, ekonomi, dan penegakan hukum dalam Sidang Kabinet Paripurna yang berlangsung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam sidang yang menandai dua tahun pemerintahan Kabinet Merah Putih tersebut, Prabowo membahas sejumlah persoalan, mulai dari besarnya koalisi pemerintah, tantangan geopolitik, ketahanan pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga tekanan terhadap pasar modal Indonesia.

Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kabinetnya atas kinerja selama dua tahun pertama pemerintahan. Menurut penilaiannya, kerja sama antarkementerian telah membantu pemerintah menghadapi berbagai tantangan dalam negeri maupun internasional.

Prabowo Jelaskan Alasan Membentuk Koalisi Besar

Salah satu hal yang disoroti Prabowo adalah kritik terhadap besarnya koalisi politik dan susunan kabinet pemerintahannya.

Prabowo mengakui bahwa koalisi pendukung pemerintah memiliki jumlah anggota yang besar. Namun, ia menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pendekatan politik yang mengutamakan persatuan nasional.

Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks sehingga membutuhkan kerja sama berbagai kekuatan politik dan unsur masyarakat.

Ia menilai persaingan dan perbedaan pendapat dalam demokrasi tetap diperlukan, tetapi kepentingan nasional perlu menjadi tujuan bersama.

Prabowo juga menanggapi kritik yang menyebut Kabinet Merah Putih terlalu besar dan tidak efisien.

Ia berpendapat bahwa ukuran wilayah Indonesia serta jumlah penduduk yang mendekati 300 juta jiwa perlu diperhitungkan ketika menilai susunan pemerintahan.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan penjelasan Presiden mengenai pilihan politiknya, bukan pengukuran independen terhadap tingkat efisiensi kabinet.

Singgung Campur Tangan Asing dalam Sejarah Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyinggung pandangannya mengenai sejarah hubungan Indonesia dengan kekuatan asing.

Ia menyatakan bahwa Indonesia sejak masa awal kemerdekaan kerap menghadapi upaya intervensi yang menurutnya bertujuan melemahkan persatuan nasional.

Prabowo mencontohkan sejumlah pergolakan sejarah, termasuk gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI/Permesta, serta Peristiwa Madiun 1948.

Presiden mengaitkan peristiwa-peristiwa tersebut dengan pentingnya menjaga ketahanan bangsa dan mencegah perpecahan.

Ia juga menyinggung krisis ekonomi dan politik pada 1997–1998, ketika muncul kekhawatiran mengenai keutuhan Indonesia.

Menurut Prabowo, pengalaman menghadapi berbagai krisis menunjukkan kemampuan bangsa Indonesia untuk mempertahankan persatuan.

Pernyataan mengenai keterlibatan pihak asing dalam berbagai peristiwa sejarah tersebut disampaikan sebagai pandangan Presiden dan tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan pihak tertentu pada setiap kasus yang disebutkan.

Pangan dan Perdagangan Dinilai Jadi Instrumen Persaingan Global

Prabowo turut menyoroti perubahan hubungan antara ekonomi dan politik dalam situasi internasional.

Menurutnya, berbagai instrumen ekonomi kini dapat digunakan sebagai alat tekanan dalam persaingan antarnegara.

Pangan, perdagangan internasional, mata uang, hingga kebijakan ekspor-impor dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan keamanan nasional.

Prabowo menekankan pentingnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pokok melalui produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada negara lain ketika terjadi krisis.

Dalam sidang tersebut, ia juga menyampaikan klaim bahwa pemerintah telah mencapai kemajuan penting dalam swasembada pangan selama dua tahun terakhir.

Selain memperkuat sektor pangan, Presiden menyatakan pemerintah berupaya menjaga hubungan baik dengan negara-negara lain melalui kebijakan luar negeri yang tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu.

Perintahkan Pengusutan Perusahaan yang Diduga Terlibat Karhutla

Persoalan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu bagian penting dalam pidato Prabowo.

Presiden menyebut temuan penyelidikan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah kebakaran diduga tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga melibatkan aktivitas manusia.

Ia meminta kepolisian, kejaksaan, Kementerian Kehutanan, TNI, dan unsur intelijen menelusuri dugaan keterlibatan korporasi maupun pihak lain yang bertanggung jawab.

Prabowo bahkan menggunakan istilah terorisme lingkungan untuk menggambarkan tindakan pembakaran yang membahayakan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, kebakaran yang menimbulkan pencemaran udara dan mengancam kesehatan jutaan orang harus ditangani melalui penegakan hukum yang tegas.

Presiden juga menginstruksikan agar izin perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran dapat dicabut.

Meski demikian, tindakan hukum terhadap perusahaan tertentu tetap memerlukan pembuktian sesuai ketentuan yang berlaku. Pernyataan Presiden tersebut merupakan arahan penyelidikan dan penindakan, bukan keputusan bahwa seluruh perusahaan yang diperiksa telah bersalah.

Prabowo Tanggapi Ancaman Penurunan Status Pasar Indonesia oleh MSCI

Dalam pembahasan ekonomi, Prabowo turut menyinggung MSCI, perusahaan penyedia indeks pasar modal global.

Ia menyatakan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan dari pihak mana pun, termasuk terkait penilaian terhadap pasar saham nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Dalam pengumuman resminya pada 15 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat, MSCI menyampaikan bahwa pelaku pasar masih memiliki kekhawatiran terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di Indonesia.

MSCI juga menilai reformasi yang telah diumumkan otoritas Indonesia masih membutuhkan bukti pelaksanaan yang konsisten serta dampak nyata terhadap kualitas pasar.

Karena itu, MSCI membuka proses konsultasi sebelum menentukan apakah perubahan klasifikasi perlu diterapkan.

Masukan dari pelaku pasar diterima hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Dengan demikian, perubahan status Indonesia menjadi standalone market belum merupakan keputusan final pada saat Prabowo menyampaikan pidatonya.

Isu tersebut menjadi perhatian karena klasifikasi MSCI digunakan banyak investor institusional global sebagai salah satu acuan dalam menentukan alokasi investasi.

Pemerintah Diminta Terus Bekerja Menghadapi Tantangan

Menutup pengarahan terbukanya, Prabowo mengingatkan jajaran Kabinet Merah Putih bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ia menyampaikan bahwa masyarakat mengharapkan hasil pembangunan yang lebih besar meskipun pemerintah telah bekerja selama dua tahun.

Presiden juga membuka kemungkinan penerapan penghematan anggaran tambahan apabila dibutuhkan untuk menghadapi tantangan mendatang.

Secara keseluruhan, pidato Prabowo menekankan pentingnya persatuan politik, ketahanan ekonomi, penguatan produksi dalam negeri, serta penegakan hukum terhadap dugaan kejahatan lingkungan.

Di sisi lain, persoalan efisiensi kabinet, transparansi pasar modal, dan penanganan karhutla tetap menjadi isu yang memerlukan tindak lanjut serta hasil kebijakan yang dapat dinilai secara terbuka.

Iklan Webekspres