Webekspres – Dinamika kesehatan global kembali dikejutkan dengan laporan terbaru dari Eropa terkait persebaran penyakit menular fatal. Otoritas kesehatan Prancis secara resmi mengonfirmasi temuan kasus infeksi virus Ebola pertama di wilayahnya. Kasus ini diketahui memiliki keterkaitan erat dengan gelombang wabah besar yang saat ini tengah melanda kawasan Republik Demokratik Kongo (DRC).

Kasus perdana ini diderita oleh seorang tenaga medis profesional yang baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan di DRC. Setelah menunjukkan gejala dan dilakukan pemeriksaan intensif, dokter tersebut dinyatakan positif mengidap Ebola. Kementerian Kesehatan Prancis bergerak cepat dengan menempatkan pasien di ruang isolasi khusus, dibarengi dengan langkah agresif petugas medis dalam menelusuri rantai kontak erat guna meminimalkan potensi penularan. Meski demikian, pihak berwenang mengimbau warga untuk tidak panik karena risiko transmisi ke masyarakat luas di daratan Eropa dinilai masih berada pada level yang rendah.

Karakteristik Wabah: Lonjakan Kasus dari Strain Langka

Krisis kesehatan yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo kali ini dipicu oleh virus Ebola dengan strain Bundibugyo. Strain ini tergolong sebagai salah satu varian yang cukup jarang dijumpai dalam sejarah medis, namun memiliki tingkat fatalitas yang tidak boleh diremehkan.

Data resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan skala keparahan wabah kali ini telah menginfeksi lebih dari 1.000 orang dan merenggut setidaknya 267 korban jiwa. Berdasarkan laporan dari media internasional TRT World, WHO juga menggarisbawahi bahwa akumulasi kasus terkonfirmasi sepanjang bulan pertama kemunculan wabah ini mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan epidemiologi Ebola.

Para epidemiolog menduga kuat bahwa virus sebenarnya telah mengonfirmasi keberadaannya dan menyebar secara senyap selama beberapa bulan sebelum akhirnya pemerintah secara resmi mendeklarasikan status wabah pada tanggal 15 Mei lalu. Kondisi diperparah karena sejumlah infeksi awal justru ditemukan di klaster perkotaan, sebelum akhirnya merembet dan mengontaminasi sedikitnya tiga kamp pengungsian padat penduduk.

Mengenal Riwayat dan Karakteristik Penyakit Ebola

Ebola dikategorikan sebagai penyakit infeksius berat yang disebabkan oleh serangan virus. Gejala klinis yang kerap muncul meliputi demam tinggi yang mendadak, muntah-muntah, diare akut, hingga potensi perdarahan hebat pada organ dalam sebagian pasien. Jalur penularan utama penyakit ini terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang masih hidup maupun jenazah yang meninggal akibat infeksi tersebut.

Jika menilik rekam jejak sejarahnya, benua Afrika tercatat pernah mengalami dua hantaman wabah Ebola paling masif:

  • Periode 2014-2016: Wabah berskala besar melumpuhkan sistem kesehatan di wilayah Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.

  • Tahun 2018: Gelombang epidemi besar berikutnya melanda kawasan Republik Demokratik Kongo (DRC).

Di belahan bumi lain, kabar baik sempat datang dari Jerman. Seorang warga negara Amerika Serikat yang sempat dirawat intensif akibat paparan Ebola akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit pada awal bulan ini. Tim medis menyatakan pasien tersebut sembuh setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa virus sudah tidak terdeteksi lagi sejak tanggal 30 Mei.

Iklan Webekspres