Webekspres – Grafik harga minyak mentah di pasar internasional terus menunjukkan tren melandai pasca dibukanya kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Pemulihan jalur logistik energi ini terjadi menyusul tercapainya kesepakatan damai yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan dinamika bursa komoditas pada perdagangan Kamis (25/6), minyak mentah varian Brent terkoreksi sebesar 40 sen atau setara 0,54 persen menuju angka US$73,34 per barel. Langkah pelemahan ini diikuti oleh minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS yang melorot 27 sen atau sekitar 0,38 persen ke posisi US$70,07 per barel.

Penyusutan nilai komoditas energi global ini seketika memicu spekulasi dan pertanyaan di lini publik: apakah banderol bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri, seperti Pertamax dan sejenisnya, berpeluang mengalami penyesuaian turun pada periode Juli mendatang?

Korelasi Lurus Harga Minyak Mentah dan BBM Domestik

Menanggapi situasi tersebut, praktisi sektor minyak dan gas (migas), Hadi Ismoyo, menguraikan bahwa skenario penurunan harga jual BBM komersial sangat terbuka lebar. Syarat utamanya adalah tren koreksi harga minyak mentah dunia mampu bertahan stabil pada level rendah seperti sekarang dalam beberapa waktu ke depan. Secara prinsip, formulasi harga BBM nonsubsidi di Tanah Air memang didesain adaptif mengikuti pergerakan pasar minyak internasional.

Apabila harga komoditas crude global kembali melandai ke zona normal, maka ongkos produksi secara otomatis akan ikut terpangkas. Karakteristik BBM nonsubsidi ini sifatnya berbanding lurus; ketika harga minyak mentah dunia melambung, harga eceran di SPBU akan naik, begitu pula sebaliknya jika terjadi penurunan.

Meskipun demikian, sepanjang bulan Juni ini, rata-rata pergerakan harga Brent sebetulnya masih bertengger di level yang relatif tinggi, yakni di kisaran US$95 per barel. Kondisi tersebut yang melandasi mengapa nilai keekonomian riil untuk BBM komersial saat ini masih bertahan di angka Rp17.400 per liter.

Namun, proyeksi akan berubah drastis apabila rata-rata bulanan harga minyak mentah mampu menyentuh batas bawah di kisaran US$70 per barel. Jika skenario penurunan itu terwujud, nilai keekonomian varian BBM sekelas Pertamax diprediksi bisa ditekan hingga berada di sekitar Rp12.800 per liter.

Mekanisme ICP dan Dampak Normalisasi Pasokan Global

Hadi menambahkan bahwa publik perlu memahami regulasi penyesuaian tarif BBM nonsubsidi tidak dieksekusi secara instan berdasarkan fluktuasi harian maupun mingguan. Otoritas terkait di dalam negeri menggunakan instrumen Indonesian Crude Price (ICP) sebagai indikator utama, yang kalkulasinya dihitung berdasarkan rata-rata akumulatif harga minyak selama satu bulan penuh. Oleh sebab itu, tinjauan perubahan tarif selalu dilakukan secara berkala berbasis bulanan (monthly basis).

Fenomena merosotnya indeks Brent dari US$95 menjadi kisaran US$83 per barel dalam tempo yang relatif singkat dipandang sebagai sebuah sinyal pasar yang sangat positif. Kondisi ini dipicu langsung oleh meredanya tensi geopolitik yang sebelumnya sempat memanas di kawasan Timur Tengah.

Dalam jangka menengah, harga minyak dunia diperkirakan bakal bergerak stabil menuju zona normalnya di level US$60 hingga US$70 per barel. Jika kalkulasi rata-rata kurs dan harga minyak mampu bertahan mendekati angka US$70 per barel, maka momentum penyesuaian harga BBM komersial di Indonesia diprediksi baru akan terlihat secara nyata pada pertengahan Juli nanti.

Validasi dari nota perdamaian yang mulai diratifikasi oleh berbagai pihak—meski di luar Israel—menjadi angin segar bagi berakhirnya blokade jalur laut. Dengan dicabutnya sanksi ekonomi tersebut, pasokan minyak mentah dunia dipastikan kembali berputar normal seiring masuknya kembali suplai sebesar 20 juta barel dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.

Iklan Webekspres