Webekspres – Adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor manufaktur tanah air rupanya belum merata. Berdasarkan pengamatan International Business Machines (IBM), terdapat jurang yang cukup lebar dalam kesiapan strategi antara korporasi besar dengan Industri Kecil Menengah (IKM).

General Manager and Technology Leader IBM ASEAN, Catherine Lian, menyoroti bahwa banyak organisasi skala kecil di Indonesia yang belum memiliki peta jalan atau strategi AI yang terdefinisi dengan jelas. Padahal, strategi ini merupakan pondasi utama sebelum melakukan implementasi teknologi secara masif.

Data Kesiapan Strategi AI

Dalam laporan bertajuk Unlocking Indonesia’s Economic Potential for Future Prosperity, IBM memaparkan data yang cukup kontras mengenai pengakuan perusahaan terhadap kesiapan strategi mereka:

  • Organisasi Kecil: Hanya 63% yang memiliki strategi AI yang terdefinisi.

  • Perusahaan Besar: Sekitar 71% telah memiliki strategi yang jelas.

  • Organisasi Menengah: Menunjukkan angka tertinggi yakni mencapai 80%.

Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Hasil Bisnis

Menurut Catherine, transisi menuju Industri 4.0 bukan hanya soal membeli atau memasang teknologi terbaru. Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada strategi yang berorientasi pada nilai nyata dan hasil bisnis yang terukur.

Selain faktor teknis, aspek sumber daya manusia menjadi poin krusial yang sering terlupakan. Pelatihan berkelanjutan dan pemberdayaan tenaga kerja harus berjalan beriringan dengan adopsi alat digital agar investasi teknologi tidak menjadi sia-sia.

Pentingnya Integrasi Data dan Kelincahan

IBM juga menekankan pentingnya perusahaan untuk meruntuhkan “sekat” data antar departemen. Integrasi data operasional dan data pelanggan secara lintas sektoral sangat diperlukan untuk memicu inovasi yang tepat sasaran.

“Melihat betapa cepatnya perkembangan teknologi saat ini, organisasi dituntut untuk mengembangkan pendekatan yang lebih lincah (agile) dan efisien agar bisa mengintegrasikan inovasi baru dengan cepat,” ungkap Catherine.

Aspek Keberlanjutan dalam Industri 4.0

Satu hal lagi yang diingatkan oleh IBM adalah mengenai prinsip keberlanjutan atau sustainability. Meski saat ini belum ada regulasi ketat yang mewajibkan hal tersebut di sektor industri manufaktur, integrasi prinsip hijau dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka panjang. Langkah ini juga dianggap strategis untuk membangun loyalitas pelanggan yang kini semakin peduli terhadap isu lingkungan.

Iklan Webekspres