Webekspres – Ketahanan pasokan energi di dalam negeri mendapatkan angin segar setelah kapal tanker raksasa berhasil melewati wilayah perairan yang penuh risiko. PT Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa armada Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Pertamina Pride kini telah keluar dari kawasan kritis Selat Hormuz dengan kondisi aman dan terkendali.

Sebelum keberhasilan ini, kapal berkapasitas besar tersebut sempat mengalami penundaan pelayaran di area Teluk Arab sejak pertengahan Maret lalu akibat dinamika ketegangan geopolitik yang meningkat di wilayah setempat. Namun, setelah melewati pemantauan ketat, armada logistik laut utama ini menyusul jejak kesuksesan kapal pendahulunya, Gamsunoro, yang juga telah lebih dulu mengamankan jalur navigasi keluar dari kawasan rawan tersebut.

“Menyusul keberhasilan kapal Gamsunoro, kapal Pertamina Pride juga telah keluar dari area Teluk Arab dan melintasi Selat Hormuz, semalam. Artinya, kedua kapal milik PIS yang tertahan sejak Maret lalu kini bisa kembali melanjutkan perjalanan dan beroperasi seperti biasa,” ujar Pjs Corporate Secretary Vega Pita, Rabu (8/7).

Kronologi dan Manajemen Risiko Pelayaran

Pergerakan strategis armada berkapasitas 2 juta barel minyak mentah ini dimulai sejak Selasa (7/7) pukul 13.00 waktu Dubai atau sekitar pukul 16.00 WIB. Mengingat status wilayah yang dilewati sangat sensitif, proses pelayaran diatur dengan perhitungan waktu yang presisi. Kapal tanker raksasa ini akhirnya dilaporkan sukses menavigasi titik paling rawan di Selat Hormuz tepat pada hari Rabu (8/7) dini hari pukul 00.15 WIB.

Kelancaran operasi ini tidak lepas dari matangnya strategi mitigasi risiko yang dirancang secara komprehensif oleh manajemen PIS. Langkah preventif yang diterapkan mencakup pemenuhan puluhan persyaratan operasional yang sangat ketat. Parameter kesiapan yang dievaluasi mencakup jaminan asuransi maritim khusus, kelaikan teknis kapal, keandalan sistem navigasi, hingga kesiapan fisik dan mental seluruh awak kapal sebelum izin berlayar diterbitkan.

Guna meminimalkan potensi ancaman selama berada di jalur perairan internasional, tim operasional darat bersiaga penuh di crisis center PIS selama 24 jam nonstop. Koordinasi berkala dilakukan secara intensif antara kapten kapal dan pusat kendali untuk memantau radar posisi, cuaca, serta pergerakan maritim di sekitar koridor pelayaran secara real-time.

Apresiasi Diplomasi dan Ketahanan Energi Domestik

Keberhasilan pelepasan dua kapal tanker utama ini juga melibatkan koordinasi aktif di tingkat diplomasi internasional. Pihak manajemen PIS menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta Kedutaan Besar RI di Tehran yang telah memberikan dukungan strategis serta pengawalan komunikasi birokrasi selama armada domestik tersebut tertahan di kawasan Teluk Arab.

Pasca-melintasi Selat Hormuz, Pertamina Pride langsung mengalihkan haluan menuju pelabuhan Cilacap, Jawa Tengah. Distribusi minyak mentah dalam volume besar ini menjadi komponen krusial dalam menyuplai bahan baku kilang domestik, sekaligus menjaga stabilitas stok energi nasional agar tidak terganggu oleh fluktuasi geopolitik global.

Armada logistik ini diperkirakan membutuhkan waktu perjalanan laut selama 15 hari ke depan dan dijadwalkan bersandar di dermaga Indonesia pada tanggal 23 Juli 2026. Hingga kapal tiba dengan selamat, pihak PIS berkomitmen untuk terus menjalankan prosedur pengawasan intensif dan berkoordinasi dengan otoritas keamanan laut guna menjamin keselamatan kru dan keutuhan muatan hingga ke titik tujuan akhir.

Iklan Webekspres