Webekspres – Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan komitmen serius dalam mentransformasi ekosistem kewirausahaan di Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, produktif, dan berkelanjutan bagi para pelaku usaha di seluruh penjuru negeri.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengungkapkan bahwa posisi Indonesia harus bergeser dari sekadar konsumen menjadi pemain kunci dalam perkembangan teknologi global. Menurutnya, inovasi AI harus mampu diberdayakan untuk memperkuat daya saing pengusaha lokal agar tidak hanya menjadi objek pasar dari para pesaing luar.

“Kita tidak boleh membiarkan Indonesia hanya menjadi target pasar teknologi AI. Kita perlu berperan aktif dalam membangun ekosistem digital di mana AI berfungsi sebagai alat pemberdayaan bagi pelaku UMKM serta penggerak ekonomi hijau yang merata,” ujar Riza dalam agenda The Power of AI di Bali, Sabtu (18/4) lalu.

Prinsip “AI for Many” dan Akselerasi Digital

Visi ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mengusung semangat AI for Many. Prinsip ini menekankan bahwa teknologi harus bersifat demokratis—dapat diakses oleh siapa saja, termasuk pelaku UMKM di wilayah pelosok (rural) maupun kelompok masyarakat yang selama ini kurang terjangkau layanan teknologi (underserved).

Mengutip arahan Menkomdigi Meutia Hafid, Riza menjelaskan dua faktor utama yang mempercepat implementasi AI di sektor bisnis:

  1. Velocity of Money: Kemudahan transaksi digital yang meningkatkan likuiditas bisnis secara instan.

  2. Velocity of Data: Pemanfaatan AI untuk analisis data secara real-time guna pengambilan keputusan strategis dan perluasan akses permodalan.

Inisiatif Strategis: SAPA UMKM hingga Entrepreneur Hub

Sebagai bagian dari Program Prioritas Nasional, Kementerian UMKM telah meluncurkan berbagai platform konkret. Salah satunya adalah SAPA UMKM, sebuah layanan terpadu yang menjembatani pengusaha dengan sumber pembiayaan, pendampingan profesional, hingga akses ke pasar internasional.

Selain itu, program Entrepreneur Hub hadir sebagai wadah kolaborasi untuk mengasah kapasitas inovasi melalui penerapan teknologi praktis dalam operasional bisnis harian. Di sisi keuangan, pemerintah mendorong penggunaan AI untuk sistem analisis kredit. Hal ini bertujuan untuk memperluas jangkauan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta memperkuat Sistem Informasi Kredit Program (SIKP).

Kolaborasi Lintas Sektor dan Peran di ASEAN

Demi membangun ekosistem digital yang aman dan produktif, sinergi antara Kementerian UMKM dan Komdigi terus diperkuat. Kerja sama ini tidak hanya terbatas di tingkat nasional, tetapi juga merambah ke kawasan regional melalui program ASEAN MOVE.

Melalui kemitraan dengan Tsinghua Southeast Asia Center, Indonesia turut membina kesiapan digital dan praktik bisnis berkelanjutan bagi 100 UMKM serta startup di Asia Tenggara.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, Kementerian UMKM optimis bahwa adopsi AI akan menjadi katalisator perubahan besar. Langkah inovatif ini diharapkan dapat mendukung target kedaulatan pangan serta akselerasi hilirisasi industri berbasis teknologi tinggi sepanjang periode 2026–2029.

Iklan Webekspres