Webekspres – Dunia teknik sipil internasional tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak emas para inovator asal Indonesia. Salah satu pencapaian yang paling monumental lahir dari buah pemikiran Prof. Dr. Ir. Sedyatmo. Tokoh legendaris ini berhasil mengguncang dunia konstruksi lewat temuan sistem pondasi cakar ayam, sebuah metode arsitektur modern yang memecahkan masalah pembangunan di atas lahan yang tidak stabil atau bermedan lunak.

Efisiensi, ketahanan, serta faktor keamanan yang tinggi membuat mahakarya Sedyatmo ini diadopsi secara luas, baik untuk proyek nasional maupun infrastruktur di berbagai belahan dunia. Sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas jasanya, pemerintah mengabadikan namanya pada jalur transportasi paling vital menuju gerbang udara internasional Indonesia, yaitu Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo (Tol Bandara Soekarno-Hatta).

Rekam Jejak Pemuda Solo Menuju Kursi Akademisi ITB

Lahir di Solo pada 24 Oktober 1909, Sedyatmo tumbuh di lingkungan keluarga priyayi dengan gelar Raden Mas. Ia memulai fondasi pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang dikelola oleh Keraton Mangkunegaran. Bakat akademisnya membawa Sedyatmo hijrah ke Yogyakarta untuk menyelesaikan studi di jenjang MULO dan Algemeene Middelbare School (AMS).

Didorong oleh ketertarikan yang besar pada ilmu rancang bangunan, ia memantapkan langkah kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng—institusi yang kini kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB)—dengan mengambil spesialisasi teknik sipil.

Pasca-kemerdekaan tahun 1945, Sedyatmo langsung mendedikasikan ilmunya untuk negara dengan bergabung di Departemen Perhubungan. Di sinilah ia menelurkan ide besar mendirikan Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI) sekaligus dipercaya menjadi nakhoda pertamanya pada periode 1946–1948.

Kariernya berlanjut di Departemen Pekerjaan Umum (PU) pada 1949, di mana ia memegang peran penting dalam mengelola Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pengalaman mengurusi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) inilah yang semakin mengasah insting dan keahlian teknisnya di lapangan.

Menjawab Tantangan Geografis Tanah Lunak di Indonesia

Dalam industri konstruksi, kegagalan merancang tapak bawah tanah bisa berakibat fatal, mulai dari keretakan struktur hingga bangunan yang roboh. Kondisi geografis Indonesia yang kaya akan lahan rawa dan tanah berlumpur sering kali menjadi momok bagi para kontraktor zamannya.

Sedyatmo hadir membawa jawaban lewat sistem pondasi cakar ayam. Inovasi ini memungkinkannya membangun struktur kokoh di atas tanah lembek tanpa perlu melewati fase pengerasan atau perbaikan tanah yang memakan waktu lama dan biaya mahal. Terobosan ini terbukti menghemat anggaran pengerjaan sekaligus mempercepat durasi proyek secara signifikan.

Metode cakar ayam memiliki fleksibilitas tinggi sehingga bisa diaplikasikan di berbagai medan, mulai dari tanah keras hingga kawasan rawan banjir. Salah satu pembuktian ekstrem dari teknologi ini adalah proyek pemasangan menara listrik tegangan tinggi di daerah Tanjung Priok. Berdiri di atas bekas tambak air, struktur bawah menara tersebut tetap berdiri tegak meski terendam di bawah permukaan air. Ketahanan sistem ini juga diuji lewat jalur-jalur transportasi utama yang setiap harinya dilewati oleh kendaraan berat berbobot puluhan ton.

Dari Apron Militer hingga Diadopsi Bandara Internasional

Berdasarkan catatan sejarah, keandalan sistem cakar ayam ini pertama kali diuji coba saat pembangunan pelataran pesawat (apron) di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya. Menyusul kesuksesan tersebut, formula arsitektur ini langsung diterapkan pada landasan pacu Bandara Polonia di Medan, serta area taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Setelah terbukti efektif, hak paten penemuan ini mulai dilirik dan diadopsi oleh industri konstruksi global.

Di samping aktif sebagai praktisi lapangan, Sedyatmo mendedikasikan sisa waktunya untuk dunia pendidikan. Pada akhir tahun 1950, ia mengajar sebagai dosen luar biasa untuk bidang Waterkracht (pembangkit tenaga air) di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (cikal bakal ITB). Setahun berselang, ia resmi dikukuhkan sebagai guru besar luar biasa. Posisinya mencatatkan sejarah sebagai profesor pribumi kedua di bidang Teknik Sipil ITB setelah Prof. Ir. Roosseno.

Berkat kecerdikannya yang luar biasa dalam memecahkan kebuntuan teknis di lapangan, rekan-rekan sejawatnya kerap menjuluki Sedyatmo dengan sebutan “Si Kancil”.

Menjelang akhir hayatnya, ITB menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa pada Maret 1974 sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas sumbangsih keilmuannya. Sang inovator mengembuskan napas terakhirnya pada 15 Juli 1984 di usia 74 tahun akibat penyakit tumor leher. Atas segala dedikasi dan kontribusi nyatanya bagi pembangunan nasional, Pemerintah Indonesia menganugerahinya tanda kehormatan Bintang Mahaputera Kelas I.

Iklan Webekspres