Webekspres – Dinamika pasar energi global kembali berguncang setelah jalur pelayaran vital di Selat Hormuz mulai beroperasi normal. Membaiknya arus lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk ini langsung memicu koreksi tajam pada harga minyak mentah dunia, yang kini meluncur ke kisaran 70 dollar AS per barrel. Kembalinya stabilitas di jalur perdagangan internasional tersebut sekaligus mengikis kekhawatiran pelaku pasar yang sebelumnya sempat dihantui oleh kecemasan kelangkaan pasokan akibat ketegangan geopolitik.

Proses pemulihan rute maritim ini sebenarnya sempat terhambat karena isu ranjau laut yang dipasang oleh pihak Iran. Kendati demikian, pengamat maritim menilai bahwa kemampuan Iran untuk memblokade total Selat Hormuz di masa depan sudah sangat terbatas. Guna menjamin kelancaran arus logistik, Oman mengambil langkah taktis dengan membuka dua jalur alternatif sementara di sisi utara dan selatan rute utama. Langkah ini terbukti efektif mengurai antrean kapal dan mempercepat distribusi komoditas keluar dari Teluk.

Melimpahnya Pasokan Minyak Mentah di Pasar Global

Lancarnya kembali keran ekspor dari kawasan Timur Tengah secara otomatis mengubah peta pasokan minyak fisik di berbagai belahan dunia. Berdasarkan dinamika pasar saat ini, wilayah Asia dan Eropa mulai kebanjiran kargo minyak mentah. Peningkatan suplai yang signifikan ini membuat persaingan harga di tingkat produsen menjadi kian ketat.

Salah satu indikator nyata dari kelebihan pasokan ini terlihat pada pergerakan harga minyak mentah asal Angola. Komoditas dari negara Afrika tersebut terpaksa dijual dengan potongan harga (diskon) paling besar dalam sepuluh tahun terakhir, yakni menyentuh angka hampir 10 dollar AS di bawah patokan global Dated Brent.

Fenomena menarik juga terjadi di Asia, di mana sejumlah kilang minyak di China justru mulai menawarkan kembali kargo mereka ke pasar sekunder. Hal ini tergolong tidak biasa mengingat China secara historis merupakan salah satu negara importir dan konsumen minyak terbesar di dunia.

June Goh, Analis Senior Pasar Minyak di Sparta Commodities, menjelaskan bahwa kilang-kilang di kawasan Asia saat ini sudah mengamankan cadangan pasokan yang sangat memadai hingga bulan Agustus mendatang. Menurutnya, limpahan minyak yang baru keluar dari Selat Hormuz justru memperparah kondisi surplus (oversupply), terutama karena tingkat permintaan domestik dari China belum menunjukkan tanda-tanda lonjakan yang berarti.

Dampak Pelonggaran Sanksi Iran oleh Amerika Serikat

Tekanan terhadap pergerakan harga minyak mentah kian berat setelah Pemerintah Amerika Serikat memberikan lampu hijau bagi Iran untuk menjual minyaknya selama masa tenggang 60 hari. Kebijakan ini diambil Washington sebagai bagian dari stimulus politik untuk mendorong terciptanya kesepakatan damai yang permanen dengan pihak Teheran.

Menanggapi situasi ini, Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, memproyeksikan bahwa volume produksi dan ekspor energi dari Iran bisa melonjak dalam waktu singkat jika pelonggaran sanksi tersebut diresmikan. Pasalnya, Iran memiliki cadangan minyak dalam jumlah masif yang saat ini sudah siap di dalam kapal-kapal tanker apung. Proses akselerasi ekspor ini diperkirakan hanya memakan waktu hitungan minggu, bukan bulan.

Analisis Risiko dan Pemotongan Proyeksi Harga oleh JPMorgan

Melihat potensi banjir minyak di pasar global dalam beberapa kuartal ke depan, lembaga keuangan internasional mulai merevisi kalkulasi mereka. Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya juga memberikan peringatan bahwa pasar berisiko mengalami surplus besar pada tahun 2027 apabila laju produksi global terus digenjot di tengah tren melambatnya pertumbuhan permintaan dunia.

Kondisi tersebut mendorong bank investasi global, JPMorgan, mengambil langkah tegas dengan memangkas estimasi harga minyak mentah Brent untuk periode paruh kedua tahun ini. Analis dari JPMorgan menyoroti bahwa penurunan stok komersial di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD ternyata tidak secepat yang diperkirakan, sementara pada saat yang sama, konsumsi energi global menunjukkan sinyal pelemahan.

Dalam laporan terbarunya, JPMorgan kini mematok proyeksi harga rata-rata Brent di level 86 dollar AS per barrel untuk kuartal ketiga, dan diperkirakan bakal terus melandai ke angka 80 dollar AS per barrel pada kuartal keempat tahun ini.

Meski tren harga cenderung turun, para pelaku pasar dan investor global diingatkan untuk tetap berhati-hati. Ketahanan komitmen damai antara AS dan Iran masih menyisakan tanda tanya besar. Klaim sepihak dari Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran sepakat terhadap inspeksi nuklir tanpa batas waktu langsung dibantah keras oleh Teheran. Ketidakpastian diplomasi ini menunjukkan bahwa faktor risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa kembali membalikkan arah pergerakan harga minyak dunia.

Iklan Webekspres