Webekspres – Kebiasaan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Mulai dari pola makan, cara bekerja, rutinitas olahraga, hingga kebiasaan menunda pekerjaan, semuanya terbentuk melalui tindakan yang dilakukan secara berulang.

Dalam buku The Power of Habit, Charles Duhigg menjelaskan bahwa kebiasaan bukan sekadar perilaku spontan. Setiap kebiasaan biasanya terbentuk melalui sebuah pola yang terdiri dari pemicu, rutinitas, dan imbalan. Pola tersebut sering disebut sebagai siklus kebiasaan.

Dengan memahami pola ini, seseorang dapat mengenali alasan di balik kebiasaan tertentu sekaligus mencari cara untuk menggantinya dengan perilaku yang lebih positif.

Mengenal Siklus Kebiasaan

Siklus kebiasaan umumnya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pemicu, rutinitas, dan imbalan.

Pemicu merupakan situasi yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan. Rutinitas adalah perilaku yang muncul setelah pemicu terjadi, sedangkan imbalan merupakan perasaan atau manfaat yang diperoleh setelah rutinitas dilakukan.

Sebagai contoh, seseorang mungkin terbiasa mengonsumsi makanan manis ketika sedang mengalami tekanan. Dalam kondisi tersebut, stres menjadi pemicu, mengonsumsi cokelat menjadi rutinitas, sementara rasa nyaman sesaat menjadi imbalannya.

Apabila pola tersebut dilakukan berkali-kali, otak mulai mengenal hubungan antara stres dan makanan manis. Akibatnya, perilaku itu dapat muncul secara otomatis setiap kali situasi serupa terjadi.

Kebiasaan Buruk Tidak Cukup Hanya Dihentikan

Salah satu tantangan terbesar dalam mengubah kebiasaan adalah keinginan untuk langsung menghentikan perilaku lama. Padahal, kebiasaan yang telah dilakukan dalam waktu lama biasanya tidak mudah menghilang.

Cara yang lebih efektif adalah mengganti rutinitas lama dengan tindakan baru yang tetap memberikan imbalan serupa.

Misalnya, seseorang yang terbiasa makan berlebihan saat stres dapat mengganti rutinitas tersebut dengan berjalan kaki, berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas lain yang membantu menenangkan pikiran.

Pemicu stres mungkin masih tetap ada. Namun, respons terhadap pemicu tersebut dapat diubah. Inilah yang membuat proses membangun kebiasaan baru menjadi lebih realistis.

Cara Mengidentifikasi Kebiasaan yang Ingin Diubah

Langkah pertama adalah mengenali rutinitas yang dianggap merugikan. Rutinitas biasanya merupakan bagian yang paling mudah terlihat karena berupa tindakan nyata.

Setelah itu, perhatikan situasi yang terjadi sebelum rutinitas tersebut muncul. Cobalah mencari tahu apakah perilaku itu dipicu oleh rasa bosan, stres, kelelahan, lingkungan tertentu, waktu tertentu, atau interaksi dengan seseorang.

Langkah berikutnya adalah memahami imbalan yang sebenarnya dicari. Seseorang yang membeli makanan ringan setiap sore belum tentu benar-benar lapar. Bisa jadi ia sedang membutuhkan waktu istirahat, mencari hiburan, atau ingin berinteraksi dengan rekan kerja.

Dengan mengetahui imbalan yang diinginkan, seseorang dapat memilih rutinitas pengganti yang lebih sehat tanpa kehilangan rasa puas yang dibutuhkan.

Buat Rencana untuk Mengganti Rutinitas

Perubahan kebiasaan membutuhkan perencanaan yang jelas. Ketika pemicu muncul, seseorang perlu mengetahui tindakan alternatif yang harus dilakukan.

Sebagai contoh, apabila tekanan pekerjaan biasanya membuat seseorang mencari makanan manis, ia dapat membuat rencana untuk minum air, berjalan selama beberapa menit, melakukan peregangan, atau berolahraga setelah bekerja.

Rutinitas baru harus cukup mudah dilakukan agar dapat diulang secara konsisten. Perubahan kecil yang dilakukan setiap hari umumnya lebih efektif dibandingkan target besar yang sulit dipertahankan.

Empat Cara Membangun Kebiasaan Baik

Membentuk kebiasaan positif tidak selalu berlangsung dengan cepat. Setiap orang memiliki kondisi, lingkungan, dan tingkat konsistensi yang berbeda. Meski demikian, beberapa cara berikut dapat membantu proses pembentukan kebiasaan menjadi lebih terarah.

1. Gunakan Pengingat yang Mudah Terlihat

Pengingat memiliki peran penting ketika seseorang sedang membangun rutinitas baru. Pada tahap awal, kebiasaan belum berjalan secara otomatis sehingga diperlukan tanda yang membantu seseorang mengingatnya.

Pengingat dapat berupa alarm, catatan, kalender, atau benda yang ditempatkan di lokasi tertentu.

Sebagai contoh, seseorang yang sering lupa mengonsumsi vitamin dapat meletakkannya di dekat teko, mesin kopi, atau meja makan. Ketika benda tersebut terlihat setiap pagi, kemungkinan untuk mengingat kebiasaan baru akan menjadi lebih besar.

Pengingat visual akan membantu sampai rutinitas tersebut mulai terasa alami.

2. Catat Perkembangan Kebiasaan

Pelacakan kebiasaan dapat membantu seseorang mengetahui apakah ia benar-benar konsisten. Mengandalkan ingatan saja sering kali membuat penilaian menjadi kurang akurat.

Pencatatan dapat dilakukan menggunakan aplikasi, kalender, tabel sederhana, maupun buku catatan. Hal yang dicatat dapat berupa jumlah hari berolahraga, waktu belajar, asupan air, jam tidur, atau target lain yang ingin dicapai.

Melalui catatan tersebut, perkembangan akan terlihat dengan lebih jelas. Seseorang juga dapat mengetahui kapan kebiasaan mulai terganggu dan apa penyebabnya.

Pelacakan bukan hanya digunakan untuk menilai keberhasilan, tetapi juga menjadi pengingat agar rutinitas tetap berjalan.

3. Kenali Hambatan dari Pengalaman Sebelumnya

Banyak orang berulang kali mencoba membentuk kebiasaan baru, tetapi kembali melakukan kesalahan yang sama. Hal ini sering terjadi karena mereka belum mengenali hambatan yang menyebabkan kegagalan sebelumnya.

Seseorang yang selalu gagal berolahraga setelah pulang kerja mungkin terlalu lelah pada waktu tersebut. Solusinya bukan memaksakan jadwal yang sama, tetapi memilih waktu lain yang lebih sesuai, seperti pagi hari atau akhir pekan.

Begitu juga dengan kebiasaan belajar. Jika gangguan dari telepon membuat seseorang sulit fokus, maka perangkat tersebut dapat diletakkan di tempat lain selama sesi belajar berlangsung.

Dengan memahami hambatan, strategi yang dibuat akan menjadi lebih realistis dan sesuai dengan kondisi sehari-hari.

4. Anggap Kebiasaan sebagai Sebuah Pilihan

Bahasa yang digunakan terhadap diri sendiri dapat memengaruhi motivasi. Kalimat seperti “saya harus”, “saya terpaksa”, atau “saya wajib” sering membuat kebiasaan terasa seperti beban.

Sebaliknya, melihat kebiasaan sebagai pilihan dapat memberikan rasa kendali yang lebih besar.

Berolahraga bukan hanya sesuatu yang harus dilakukan, tetapi merupakan pilihan untuk menjaga kesehatan. Tidur lebih awal adalah pilihan untuk mendapatkan energi yang lebih baik pada hari berikutnya. Belajar secara konsisten merupakan pilihan untuk meningkatkan kemampuan.

Ketika seseorang merasa memiliki kendali atas keputusannya, proses membangun kebiasaan biasanya menjadi lebih positif.

Berapa Lama Kebiasaan Baru Terbentuk?

Tidak ada waktu yang benar-benar sama untuk setiap orang. Kebiasaan sederhana mungkin lebih cepat terbentuk, sedangkan rutinitas yang lebih sulit dapat membutuhkan waktu lebih panjang.

Karena itu, seseorang tidak perlu terlalu terpaku pada jumlah hari tertentu. Hal yang lebih penting adalah menjaga konsistensi dan kembali melanjutkan kebiasaan ketika sempat terlewat.

Melewatkan satu hari bukan berarti seluruh proses telah gagal. Namun, berhenti dalam waktu lama dapat membuat rutinitas baru semakin sulit dipertahankan.

Mulailah dari Perubahan Kecil

Membangun kebiasaan yang baik tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Seseorang yang ingin rutin berolahraga dapat memulai dengan berjalan selama 10 menit. Orang yang ingin membaca lebih banyak dapat memulainya dengan beberapa halaman setiap malam.

Target kecil lebih mudah dilakukan dan memberikan rasa keberhasilan. Setelah rutinitas mulai terbentuk, intensitasnya dapat ditingkatkan secara bertahap.

Perubahan yang bertahan lama biasanya berasal dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, bukan dari upaya besar yang hanya berlangsung sesaat.

Kesimpulan

Mengubah kebiasaan membutuhkan pemahaman terhadap pemicu, rutinitas, dan imbalan yang membentuk perilaku tersebut. Kebiasaan buruk tidak selalu harus dilawan secara langsung, tetapi dapat diganti dengan rutinitas yang lebih bermanfaat.

Pengingat visual, pencatatan perkembangan, evaluasi hambatan, dan cara pandang yang menempatkan kebiasaan sebagai pilihan dapat membantu proses perubahan berjalan lebih efektif.

Meskipun hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, kebiasaan dapat dibentuk ulang melalui latihan dan konsistensi. Setiap perubahan kecil yang dilakukan hari ini dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan pada masa mendatang.

Iklan Webekspres