Webekspres – Kulkas dan freezer di sejumlah supermarket Eropa kembali menjadi sasaran serangan siber. Para pakar keamanan siber menilai perangkat pendingin tersebut diincar karena mudah diserang, sementara panduan untuk meretasnya pun tersedia luas di internet.

Pakar keamanan siber dari perusahaan Ygreky, Marta Rybczynska, menyebut kulkas dan freezer supermarket merupakan target yang mudah. Ia juga menduga ada kelompok yang didukung negara di balik rangkaian serangan ini, meski para peretas tidak memperoleh keuntungan langsung dari aksinya.

“Penyelidik bungkam soal hasil investigasi saat ini di Prancis, tetapi melalui proses eliminasi, kemungkinan besar ada kelompok yang didukung oleh negara di balik ini semua,” ujar Rybczynska, dikutip dari Euronews, Selasa (3/11/2026).

Dugaan Keterlibatan Negara Menguat

Rybczynska mengaku awalnya mengira pelaku serangan di Prancis hanyalah sekelompok anak muda. Namun, setelah mengamati insiden terbaru, ia semakin yakin ada keterlibatan negara.

“Setelah serangan di Prancis, saya sempat mengira pelakunya adalah sekelompok anak muda, namun dengan kasus terakhir ini kemungkinannya (keterlibatan negara) menjadi jauh lebih besar. Kecuali, jika mereka sadar meniru metodenya,” imbuhnya.

Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab maupun ditetapkan sebagai pelaku.

Sistem Lama yang Tak Lagi Diperbarui

Pendiri organisasi nirlaba keamanan siber Critical Cyber, Pavlina Pavlova, menyoroti persoalan perangkat yang usang. Menurutnya, banyak perangkat pendingin masih memakai sistem lama yang tidak lagi diprioritaskan, bahkan tidak dapat diperbarui melalui patch keamanan.

Pavlova mencontohkan, banyak alat pengontrol yang diserang di Prancis merupakan model lama yang sudah tidak menerima pembaruan keamanan, padahal kelemahannya telah diketahui sejak 2025.

Ia menyebut tiga alasan kulkas dan freezer supermarket menjadi sasaran empuk peretas, yakni mudah dijangkau, menarik untuk diserang, dan perangkat kerasnya sangat rapuh.

AI Diprediksi Perparah Ancaman

Pavlova memperkirakan ancaman ini bisa meningkat di era kecerdasan buatan. Menurutnya, AI mempermudah serangan canggih dan memungkinkan otomatisasi serangan dalam skala serta kecepatan yang tidak bisa ditandingi manusia.

“Deteksi kerentanan yang digerakkan oleh AI membuat pencarian dan eksploitasi titik lemah menjadi lebih mudah dan lebih cepat dari sebelumnya, termasuk pada fungsi-fungsi vital yang sangat diandalkan,” jelas Pavlova.

Di sisi lain, kata dia, kecepatan melakukan patching masih menjadi hambatan besar bagi pihak yang bertahan, sehingga kondisinya mungkin memburuk sebelum akhirnya membaik.

Toko Belum Merasa Jadi Target

Toko-toko yang terdampak insiden terbaru tampak belum meningkatkan perlindungan sistem setelah serangan di Prancis. Menurut Rybczynska, salah satu penyebabnya adalah banyak toko belum menyadari bahwa sistem operasional mereka bisa menjadi sasaran serangan siber.

“Masalah besar yang saya lihat adalah toko-toko tidak menganggap diri mereka sebagai target potensial. Menurut saya, ada kebutuhan mendesak untuk mulai melindungi layanan-layanan yang selama ini dianggap tidak cukup penting,” tutur Rybczynska.

Rangkaian Serangan di Eropa

Rangkaian insiden terbaru pada Senin (2/11/2026) menyasar kulkas dan freezer supermarket di sejumlah negara, termasuk Belgia, Luksemburg, Estonia, Belanda, dan Irlandia. Swedia juga terdampak, dengan salah satu toko menyebut serangan siber sebagai penyebabnya.

Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah freezer di sekitar 500 hingga 700 supermarket di Prancis menjadi sasaran serangan siber besar yang membuat suhunya naik hingga 50 derajat Celsius. Otoritas Prancis meyakini serangan pada 12 Oktober 2026 itu melibatkan pihak dari luar negeri, meski belum ada pihak yang secara resmi dituding sebagai pelaku.

Mengapa Kulkas Terhubung ke Internet?

Menurut laporan Euronews Next, kulkas, sistem pemanas, dan sistem keamanan kini banyak terhubung ke internet agar dapat dipantau dari jarak jauh, sehingga pemilik toko lebih mudah mengelolanya.

Secara teori, setiap perangkat yang terhubung ke internet, baik melalui aplikasi maupun jaringan cloud, berpotensi diretas. Setelah berhasil masuk ke jaringan, peretas dapat mengumpulkan informasi, mengubah pengaturan perangkat, mengunci pengguna dari akunnya, hingga mematikan perangkat sepenuhnya.

Iklan Webekspres