Webekspres – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih pasca militer Amerika Serikat (AS) melancarkan aksi serang terbaru yang menyasar pangkalan operasi pesawat tanpa awak (drone) milik Iran. Insiden ini secara mengejutkan merusak peta stabilitas kawasan dan langsung memicu guncangan hebat di sektor makroekonomi global, ditandai dengan lonjakan harga minyak mentah dan ambruknya sebagian besar indeks harga saham gabungan di wilayah Asia.

Berdasarkan data perdagangan komoditas hari ini, pergerakan harga minyak mentah dunia mencatatkan grafik kenaikan yang cukup signifikan dengan persentase yang bervariasi. Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi tolok ukur pergerakan harga komoditas global asal Laut Utara, dilaporkan melonjak hingga 1,8 persen dan kini bertengger di level US$95,95 per barel. Tren kenaikan yang hampir serupa juga diikuti oleh West Texas Intermediate (WTI) sebagai kontrak standar AS, yang merangkak naik sebesar 1,7 persen menuju angka US$90,17 per barel.

Di sisi lain, respons negatif langsung ditunjukkan oleh lantai bursa di koridor Asia yang mayoritas terjerembap ke zona merah. Salah satu koreksi terdalam dialami oleh indeks Hang Seng di Hong Kong yang terpantau merosot hingga melebihi 1,5 persen pada sesi perdagangan hari ini.

Goyahnya Stabilitas Jalur Komersial Selat Hormuz

Agresi militer terbaru yang diinisiasi oleh pihak Washington tidak hanya memantik api permusuhan lama, melainkan juga menebar ancaman nyata terhadap keselamatan armada militer AS serta kelancaran arus pelayaran kapal dagang komersial yang melintasi Selat Hormuz. Jalur maritim strategis ini kembali menjadi titik rawan yang dipenuhi risiko keamanan tinggi.

Mengutip laporan dari kantor berita AFP pada Kamis (28/5), situasi krusial ini sebenarnya sangat bertolak belakang dengan kondisi pasar pada hari sebelumnya. Kemarin, pergerakan harga minyak dunia sejatinya sempat menunjukkan tren melandai, yang sekaligus mengembuskan angin segar serta optimisme tinggi bagi para pelaku pasar akan lahirnya kesepakatan damai guna menyudahi konflik berkepanjangan di Selat Hormuz. Namun, aksi saling serang ini seketika membuyarkan harapan tersebut.

Seorang pejabat berwenang dari pihak AS memaparkan bahwa dalam operasi udara tersebut, angkatan bersenjata mereka berhasil melumpuhkan empat unit drone tempur Iran. Selain itu, serangan taktis tersebut juga berhasil menghancurkan sebuah pusat komando navigasi yang berlokasi di wilayah kota pelabuhan Bandar Abbas, bagian selatan Iran. Perwakilan pemerintah AS tersebut berdalih bahwa langkah militer teranyar ini bersifat proporsional, murni demi pertahanan diri, serta ditujukan untuk mengamankan jalannya komitmen gencatan senjata.

Laporan kontras justru dirilis oleh media nasional bentukan pemerintah Teheran. Pihak Iran mengklaim bahwa kesatuan militer mereka telah melancarkan serangan balasan yang menyasar empat unit kapal di sekitar perairan Selat Hormuz. Di saat yang bersamaan, pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka sempat aktif guna menangkal gangguan dari rudal serta serangan pesawat tak berawak yang melintas di wilayah udara mereka.

Skenario yang Melenceng dari Prediksi Pengamat

Kembali pecahnya kontak senjata antara AS dan Iran dinilai banyak pihak berada di luar kalkulasi jajaran pengamat politik internasional. Sebelumnya, berbagai analisis meyakini bahwa bentrokan fisik di antara kedua negara ini sangat kecil kemungkinan untuk terulang kembali, mengingat proses diplomasi menuju kesepakatan final dilaporkan sudah berjalan di jalur yang tepat.

Presiden Donald Trump sendiri dalam berbagai kesempatan kerap menyuarakan ambisinya untuk menciptakan perdamaian yang langgeng di kawasan Timur Tengah. Namun, realita di lapangan saat ini justru menunjukkan arah yang berlawanan dan memperpanjang ketidakpastian global. Padahal, jika menengok ke belakang, kesepakatan gencatan senjata yang mengikat antara AS dan Iran ini baru saja berjalan secara resmi sejak awal April lalu.

Iklan Webekspres