Webekspres – Kecelakaan pesawat jet pribadi Learjet 60 di kawasan permukiman Florida Selatan, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11/2026) memunculkan sorotan para pakar penerbangan terhadap bahaya badai petir, turbulensi parah, dan pembentukan lapisan es di udara. Meski demikian, penyebab pasti kecelakaan yang menewaskan sembilan orang di dalam pesawat itu masih diselidiki.
Pesawat tersebut sedang terbang dari Austin, Texas, menuju Bahama ketika jatuh di Palm Beach County, Florida. Benturan pesawat menciptakan kawah besar di dekat kendaraan yang sedang melintas. Saat kejadian, wilayah tersebut tengah diguyur hujan deras disertai badai petir.
Pilot Sempat Laporkan Es di Ketinggian Jelajah
Menurut laporan yang dihimpun CNN Indonesia, para pilot sempat melaporkan keberadaan es pada ketinggian 10.668 meter. Setelah itu, mereka melaporkan pesawat turun dengan kecepatan 3.048 meter per menit, yang kemudian dengan cepat meningkat menjadi 6.705 meter per menit.
Badai Petir Disebut Fenomena Cuaca Paling Berbahaya
Peneliti University of South Florida, Joseph Post, menjelaskan bahwa badai petir dapat menciptakan kondisi terbang yang berbahaya, terutama ketika pesawat menghadapi turbulensi parah atau terbentuknya lapisan es.
“Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan,” kata Post, seperti dikutip dari WFLA, Senin (2/11/2026).
Post menerangkan, es yang menumpuk dapat mengganggu aliran udara di atas sayap sehingga daya angkat pesawat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi membuat pesawat mengalami stall atau kehilangan daya angkat. Di sisi lain, turbulensi parah dapat memberi tekanan besar pada struktur pesawat dan, dalam kondisi ekstrem, dapat memicu kegagalan struktur.
Namun, Post menegaskan bahwa penyebab hilangnya kendali Learjet tersebut belum diketahui. Penyelidik belum memastikan apakah kecelakaan dipicu lapisan es, turbulensi, atau faktor lain.
Lapisan Es Tipis Pun Bisa Ubah Cara Pesawat Terbang
Penjelasan serupa disampaikan pilot komersial sekaligus CEO Jettly, Justin Crabbe. Kepada LADbible, ia menguraikan bagaimana es dapat terbentuk pada badan pesawat.
“Ketika pesawat terbang menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin, tetesan tersebut dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat,” kata Crabbe.
Ia juga menjelaskan istilah severe icing atau pembentukan lapisan es parah.
“Severe icing berarti es menumpuk dengan sangat cepat sehingga sistem pencegah atau pencair es pada pesawat mungkin tidak mampu mengatasinya secara optimal,” jelasnya.
Menurut Crabbe, es dapat mengubah bentuk sayap, mengurangi daya angkat, menambah hambatan udara, serta membuat pesawat lebih sulit dikendalikan. Dalam kondisi parah, performa pesawat dapat merosot dengan sangat cepat, terutama bila pilot tidak segera keluar dari area pembentukan es.
Kombinasi Es dan Turbulensi Perburuk Situasi
Crabbe menilai keberadaan es dapat memperburuk keadaan apabila pesawat sebelumnya sudah berjuang menghadapi turbulensi.
“Salah satu kemungkinannya adalah penumpukan es menurunkan kinerja aerodinamika pesawat hingga pesawat tidak lagi mampu menghasilkan daya angkat yang cukup,” tutur Crabbe.
“Jika pesawat juga menghadapi turbulensi yang cukup kuat, kondisi tersebut dapat memperburuk situasi yang sebelumnya sudah sulit,” tambahnya.
Ia menyebut dampaknya akan sangat fatal jika pesawat mengalami stall aerodinamis pada ketinggian yang tidak lagi memungkinkan pilot memulihkan kendali.
Meski begitu, Crabbe mengingatkan bahwa kesimpulan belum bisa ditarik hanya dari satu jenis bukti.
“Rekaman audio kokpit saja tidak cukup untuk memastikan penyebab kecelakaan. Penyelidik perlu memeriksa kinerja pesawat, kondisi cuaca, dan data penerbangan sebelum menarik kesimpulan,” kata Crabbe.
Kopilot Berusia 20 Tahun Tetap Berkomunikasi hingga Akhir
Kecelakaan ini juga mendapat perhatian Administrator NASA Jared Isaacman. Melalui unggahan di X, ia menyoroti pengalaman mencekam yang dialami orang-orang di dalam pesawat, termasuk kopilot yang berusia 20 tahun.
“Dia menjalankan tugasnya, berkomunikasi dengan (pengatur lalu lintas udara) hingga saat-saat terakhir dalam situasi yang menakutkan,” tulis Isaacman.
“Kemungkinan besar, jauh sebelum komunikasi-komunikasi terakhir itu dilakukan, dia sudah tahu bahwa dirinya akan meninggal.”
Hingga kini, penyelidikan masih berjalan untuk memastikan faktor yang menyebabkan Learjet 60 tersebut kehilangan kendali dan jatuh.
- Alamat Webekspres Karawang
- Jasa Aplikasi Perusahaan Karawang
- Jasa Artikel SEO Karawang
- Jasa Digital Marketing di Karawang
- Jasa Iklan Google Karawang
- Jasa Iklan Meta Karawang
- Jasa Pelatihan IT Karawang
- Jasa Pembuatan Aplikasi di Karawang
- Jasa Pembuatan Software di Karawang
- Jasa Pembuatan Website di Karawang
- Jasa Pembuatan Website di Kecamatan Pangkalan
- Jasa SEO Karawang
- Jasa Software Perusahaan Karawang
- Jasa Website Company Profile Karawang
- Jasa Website Industri Karawang
- Jasa Website Perusahaan Karawang
- Kantor Webekspres Karawang
- Masa Media Sosial Karawang
- Perusahaan IT Karawang
- Perusahaan Startup Karawang
- PT Webekspres Teknologi Indonesia



Tinggalkan Balasan